Tsunami Selat Sunda pada 22 Desember 2018 adalah tragedi memilukan yang menyentak Indonesia. Uniknya, tsunami ini tidak disebabkan oleh gempa bumi tektonik, melainkan oleh longsor bawah laut akibat erupsi dan runtuhnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau. Gelombang tiba-tiba ini menghantam pesisir Banten dan Lampung, membawa kehancuran dan duka mendalam yang tak terlupakan bagi masyarakat, terutama saat liburan.
Tanpa peringatan gempa, gelombang tsunami menerjang dengan cepat, mengejutkan banyak orang yang tengah beraktivitas di pantai. Destinasi wisata populer di pesisir Banten, seperti Tanjung Lesung, Carita, dan Anyer, menjadi lokasi terdampak paling parah. Banyak wisatawan yang sedang menikmati liburan akhir tahun, termasuk yang sedang menyaksikan konser, menjadi korban tak terduga dari bencana ini.
Ketinggian gelombang tsunami bervariasi, namun cukup kuat untuk menyapu bangunan, kendaraan, dan apa pun yang dilewatinya. Kerusakan infrastruktur di pesisir Banten dan Lampung sangat parah. Hotel, vila, restoran, serta fasilitas umum lainnya hancur lebur, melumpuhkan sektor pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi beberapa wilayah di sana.
Tsunami ini menewaskan lebih dari 400 jiwa, termasuk banyak wisatawan yang sedang menikmati liburan. Angka ini mungkin tidak sebesar bencana tsunami lainnya, tetapi dampaknya terasa sangat menyakitkan karena kedatangannya yang tiba-tiba dan melanda saat musim liburan, membuat banyak keluarga kehilangan orang terkasih tanpa persiapan.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga tentang keragaman pemicu tsunami. Selama ini, fokus peringatan dini lebih banyak pada gempa bumi tektonik. Namun, Tsunami Selat Sunda membuktikan bahwa longsor bawah laut akibat aktivitas gunung berapi juga dapat menyebabkan tsunami yang mematikan, menuntut sistem deteksi yang lebih komprehensif.
Pemerintah dan berbagai lembaga terkait segera melakukan upaya tanggap darurat dan pemulihan di pesisir Banten dan Lampung. Rekonstruksi dan rehabilitasi terus dilakukan untuk membangun kembali wilayah terdampak agar lebih tangguh. Edukasi masyarakat tentang potensi tsunami non-tektonik juga menjadi fokus penting dalam mitigasi bencana.
Meskipun Tsunami Selat Sunda meninggalkan luka mendalam, ia juga memicu kesadaran global tentang bahaya Anak Krakatau. Pemantauan aktivitas gunung berapi ini diperketat. Ini adalah pengingat bahwa alam memiliki kekuatan yang luar biasa, dan kesiapsiagaan bencana harus menjadi prioritas utama bagi semua komunitas pesisir, termasuk di pesisir Banten.