Sosiologi Mistis: Alasan Fenomena Pesugihan Masih Dipercaya di Era Digital

Di tengah hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan kecerdasan buatan di tahun 2026, sebuah anomali sosial masih bertahan kuat di tengah masyarakat Indonesia. Fenomena Pesugihan tetap menjadi perbincangan hangat, baik di ruang-ruang gelap pedesaan maupun di kolom komentar media sosial yang modern. Secara sosiologis, kepercayaan terhadap jalan pintas menuju kekayaan ini bukan sekadar masalah klenik, melainkan cerminan dari tekanan ekonomi dan ketimpangan sosial yang membuat sebagian orang merasa putus asa terhadap sistem kerja konvensional yang dianggap tidak adil.

Daya tarik Pesugihan di era digital sering kali dipicu oleh rasa iri sosial yang muncul akibat pamer kekayaan di platform daring. Ketika keberhasilan seseorang hanya diukur dari materi, namun peluang untuk mencapainya secara rasional semakin sempit, mistisisme hadir sebagai solusi instan yang menggoda. Masyarakat yang merasa terpinggirkan secara ekonomi cenderung mencari kekuatan eksternal untuk mengubah nasib mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kecanggihan gawai tidak serta-merta menghapus pola pikir magis jika kebutuhan dasar manusia akan rasa aman secara finansial belum terpenuhi secara merata.

Selain faktor ekonomi, narasi mengenai Pesugihan terus hidup karena adanya fungsi kontrol sosial dan peringatan moral di dalam komunitas. Cerita-cerita tentang tumbal atau konsekuensi tragis dari kekayaan instan sering kali digunakan sebagai pengingat agar manusia tetap bekerja keras dan jujur. Namun, di sisi lain, mitos ini juga sering menjadi kambing hitam untuk menghakimi tetangga atau kenalan yang sukses secara mendadak. Sosiologi melihat ini sebagai cara masyarakat menjelaskan sesuatu yang tidak mereka pahami, yakni kesuksesan finansial yang terlihat tidak masuk akal dalam logika mereka sehari-hari.

Menariknya, di tahun 2026 ini, praktik Pesugihan juga bertransformasi dalam bentuk digital, seperti munculnya akun-akun anonim yang menawarkan jasa mistis melalui aplikasi pesan singkat. Ini membuktikan bahwa teknologi hanya menjadi alat baru bagi kepercayaan lama. Ketakutan akan masa depan dan keinginan untuk menguasai nasib secara cepat adalah penggerak utama mengapa praktik ini sulit hilang. Selama literasi keuangan dan keadilan ekonomi belum menyentuh seluruh lapisan masyarakat, bayang-bayang dunia mistis akan selalu membayangi ambisi manusia untuk menjadi kaya raya.

Penting bagi kita untuk melihat fenomena Pesugihan bukan hanya dari sudut pandang takhayul, melainkan sebagai alarm bagi para pembuat kebijakan. Pendidikan dan pembukaan lapangan kerja yang lebih luas adalah penawar utama bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam janji-janji palsu dunia gaib. Dengan memahami akar masalah sosiologis ini, kita bisa membangun masyarakat yang lebih rasional namun tetap menghargai warisan budaya tanpa harus terjerumus dalam praktik yang merugikan diri sendiri maupun orang lain demi tumpukan harta yang bersifat semu.

journal.pafibungokab.org

learn.pafipemkotkerinci.org

news.pafipemkotpalopo.org